Dari Empat Menjadi Tujuh, Komitmen RAPP Rawat Gajah Sumatera
UKUI, PELALAWAN, (Cakrawalapos.id)- Di bawah hanggar seekor gajah betina bernama Carmen berdiri tegak sambil mengayun belalainya pelan. Mulutnya tak berhenti mengunyah batang pisang tetapi matanya tak pernah lepas dari anaknya, April, yang berlari riang menyambut rombongan tamu yang baru tiba. Ada kegembiraan di wajah kecil April, tapi juga ada sesuatu yang lain di sorot mata sang induk: cemburu.
Pagi itu, sekitar pukul 10.00 WIB, Cakaplah.com tiba di Unit Konservasi Gajah (UKG) Estate Ukui PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) di Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau. Perjalanan dari Pangkalan Kerinci yang dimulai sejak pukul 07.00 WIB berlangsung lancar meski harus melewati medan jalan berbatu dan tanah kuning. Cuaca cerah, meski malam sebelumnya hujan deras mengguyur kawasan tersebut.
Unit Konservasi Gajah (UKG) Estate Ukui merupakan fasilitas konservasi gajah Sumatera yang dikelola oleh PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) bekerja sama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau untuk mendukung perlindungan satwa liar serta mitigasi konflik antara manusia dan gajah di wilayah Riau.
Begitu sampai, para mahout menyambut bersama tiga “tuan rumah” yang sudah menunggu: Gajah Ika, Carmen dan anaknya, April. Sedangkan empat ekor lainnya berada di tempat terpisah bersama para mahoutnya.
April merupakan anggota bungsu di UKG Ukui. Saat ini ia baru berusia 34 bulan. Ia lahir pada 6 April 2023, yang kemudian nama bulan keempat itu disematkan kepada hewan mamalia itu, nama yang sama juga merupakan induk perusahaan PT RAPP, APRIL Group.
April terlihat begitu ceria. Ia berlari kecil, mendekati pengunjung, seolah ingin tahu siapa saja yang datang. Sesekali ia mengibaskan telinga lebarnya, lalu berputar kembali ke arah induknya.
Namun ketika April terlalu asyik bermain dengan manusia, Carmen mulai menunjukkan reaksi, seperti berteriak seolah memberi isyarat, jangan ganggu anaknya. “Dia cemburu kepada anaknya,” ujar Angga Devila Yoelanda, Askep Forest Protection di UKG Ukui.
Baby Blues Seekor Induk Gajah
Carmen bukan sekadar induk yang protektif. Ia adalah generasi kedua yang lahir di UKG Ukui. Carmen lahir pada 2009, anak dari Meri yang merupakan salah satu dari empat gajah pertama yang menghuni kawasan ini sejak 2006. Sebelumnya, pada tahun 1994, APRIL menerima empat ekor gajah dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Sebanga sebagai bagian dari upaya konservasi.
Unit Konservasi Gajah ini berada di bawah pengelolaan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), bagian dari APRIL Group. Unit ini didirikan pada 2006 sebagai bentuk komitmen perusahaan mendukung pemerintah, khususnya Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau, dalam melestarikan gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus) yang terancam punah.
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu subspesies gajah Asia yang kini berstatus Critically Endangered atau terancam punah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Foto: Gajah April yang berada di Unit Konservasi Gajah (UKG) Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau.
Awalnya hanya ada terdapat empat ekor gajah: Ade (kelahiran 1977), Mira (1979), Meri (1979), dan Ika (1978). Gajah-gajah ini dihibahkan pemerintah dari Pusat Latihan Gajah Sebanga dan ditempatkan di Langgam sebelum akhirnya dipindahkan ke Ukui pada 2006, seiring pembentukan Elephant Flying Squad melalui kerja sama dengan BKSDA dan para pihak lainnya pada 2005.
Elephant Flying Squad merupakan tim patroli konservasi yang menggunakan gajah terlatih untuk membantu menggiring gajah liar kembali ke habitatnya serta mengurangi konflik antara manusia dan gajah di kawasan hutan.
Dari semula hanya empat ekor itu, kini hewan bertubuh besar itu telah berkembang menjadi tujuh ekor. Tiga ekor gajah yang lahir di UKG Ukui tersebut adalah Carmen (2009) dan Raja Arman (2011) yang merupakan generasi kedua. Sementara April menjadi generasi ketiga yang lahir di UKG Ukui. Bahkan saat ini UKG Ukui sedang menunggu kelahiran satu gajah baru.
Kelahiran April dan terus bertambahnya jumlah gajah di UKG Ukui menjadi harapan di tengah masih adanya perburuan gajah Sumatera dan ancaman kepunahan satwa dilindungi itu.
Provinsi Riau sendiri merupakan salah satu wilayah penting bagi populasi gajah Sumatera di Pulau Sumatra, namun kawasan ini juga menghadapi tantangan berupa fragmentasi habitat serta potensi konflik antara satwa liar dan aktivitas manusia.
Namun kisah kelahiran Gajah April tak sepenuhnya mulus dan penuh drama. Saat melahirkan, usia Carmen masih tergolong muda untuk ukuran induk gajah. “Umurnya waktu itu sekitar 14 tahun. Sangat terlalu. Ketika melahirkan anak Carmen sempat mengalami baby blues,” ungkap Angga.
Selama masa awal kelahiran, Carmen menolak menyusui anaknya. Setiap kali April mendekat, ia marah dan menjauh. Kondisi ini membuat para mahout sempat kewalahan sebab jika sang bayi tak kunjung menyusui maka sesuatu yang buruk bisa saja terjadi. Para pawang mencari cara. Bahkan sempat terpikir untuk memberikan susu formula pengganti susu dari sang induk.
“Tapi kalau diberikan susu formula untuk Gajah April yang baru lahir, itu akan jadi persoalan baru. Kebutuhannya sangat banyak dan tidak terbayangkan berapa liter susu yang harus disediakan setiap hari,” jelasnya.
Akhirnya, tim menemukan cara. Saat Carmen diberi makan untuk mengalihkan perhatian, April diam-diam diarahkan untuk menyusu. Cara itu berhasil. Perlahan, naluri keibuan Carmen tumbuh. Kini, ia justru menjadi induk yang sangat protektif, bahkan cemburu ketika anaknya terlalu dekat dengan manusia
Foto: Gajah Raja Arman bersama Mahout di Unit Konservasi Gajah (UKG) Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau.
Menjaga Harmoni Manusia dan Gajah
Sementara itu beberapa kilometer dari lokasi Carmen, April dan Ika, seekor gajah gagah terlihat makan pohon pisang. Ia adalah Gajah Raja Arman. Meski usainya baru 15 tahun namun postur tubuhnya tinggi, besar dan kokoh. Gadingnya panjang melengkung menambah kesan wibawa Gajah yang lahir di UKG Ukui itu.
Saat CAKAPLAH.com menghampirinya, Raja Arman terlihat jinak dan ramah. Ia bahkan memperlihatkan atraksi melintasi sungai dan menyemburkan air dari belalainya kepada arah tamu yang datang.
Di balik itu ada dua mahout yang senantiasa mendampingi Raja Arman. Mengenakan baju seragam hijau dan helem, pawang menyuapi gajah dengan beberapa butir gula merah. “Gula merah merupakan kesukaan para gajah. Makanya kita membuatkan gula merah untuk mereka dan selalu membawanya kemanapun gajah pergi,” kata salah seorang mahout.
Di UKG Ukui, sembilan mahout bertugas mendampingi dan melatih gajah. Umumnya tiga orang mahout menangani dua gajah. Menariknya, sebagian mahout juga merupakan generasi kedua, melanjutkan profesi orangtua mereka.
Setiap hari, mereka memastikan kesehatan gajah, membawa ke lapangan, memandikan, hingga membuat “puding gajah”, pakan tambahan yang diracik khusus. Pemeriksaan kesehatan rutin dilakukan bersama BKSDA Riau, termasuk medical check-up berkala.
Fasilitas di UKG cukup lengkap: hanggar, kandang jepit untuk pemeriksaan, kantor edukasi, hingga dapur pakan.
Tak hanya merawat gajah jinak, UKG juga berfungsi memitigasi konflik antara gajah liar dan manusia. Mereka juga telah memiliki standar operation prosedur (SOP), salahsatunya adalah jika ada gajah liar melintas di areal kerja, seluruh aktivitas harus dihentikan hingga gajah meninggalkan lokasi. Semua pekerja juga telah diberi pemahaman soal itu bahwa keberadaan gajah baik yang liar maupun hasil penangkaran harus menjadi prioritas.
“Prinsipnya mereka hanya melintas di jalurnya. Gajah liar tidak agresif jika tidak diganggu atau merasa terintimidasi,” kata Angga.
Sejauh ini, belum ada konflik serius antara pekerja dan gajah. Selain karena penerapan SOP ketat dan sudah dipahami semua karyawan di Estate Ukui, perusahaan juga menyediakan kawasan lindung atau green belt seluas lebih dari 3.500 hektare atau sekitar 10 persen dari total areal izin. Kawasan ini dipertahankan sebagai hutan alam, lengkap dengan sumber air dan pepohonan besar yang menjadi koridor alami gajah.
Dalam pendekatan konservasi modern, kawasan seperti ini juga dikenal sebagai wildlife corridor, yaitu jalur alami yang memungkinkan satwa liar bergerak dari satu habitat ke habitat lainnya tanpa terhalang aktivitas manusia.
“Perusahaan memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kelestarian gajah. Ini bisa dilihat dari luasnya kawasan lindung yang disediakan, pepohonan besar masih dijaga, sumber air tersedia dan hutan alam tidak dieksplorasi,” katanya lagi.

Komitmen Perusahaan
Sementara itu bagi perusahaan, menurut Disra Alldrick, Corporate Communications Manager PT RAPP, perkembangan populasi gajah di UKG Estate Ukui ini menjadi bukti keseriusan perusahaan dalam mendukung konservasi.
“Dari awalnya hanya empat ekor, sekarang sudah bertambah menjadi tujuh ekor. Ini menjadi harapan bahwa upaya konservasi yang dilakukan bersama para pihak dapat membantu menjaga keberlangsungan gajah Sumatera,” ujarnya.
Ia mengatakan bagi RAPP, UKG bukan sekadar program sosial perusahaan, melainkan bagian dari strategi keberlanjutan jangka panjang untuk mendukung konservasi gajah Sumatera.
Pendekatan ini juga sejalan dengan konsep koeksistensi antara manusia dan satwa liar, di mana aktivitas manusia dan jalur perlintasan satwa dapat berjalan berdampingan melalui pengelolaan habitat yang tepat.
Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Heru Sutmantoro mengajak semua pihak pemangku kepentingan untuk ikut melestarikan serta meningkatkan pengamanan terhadap perlindungan satwa gajah. “Di antaranya dengan cara memperketat patroli di kawasan hingga memberantas jerat satwa liar yang menjadi ancaman satwa dilindungi,” ujarnya.
***
Di tengah ancaman kepunahan gajah Sumatera di alam liar, kisah Carmen dan April menghadirkan secercah harapan.
Di padang rumput Ukui pagi itu, April kembali berlari kecil. Ia mendekati pengunjung, lalu menoleh ke arah induknya. Carmen berdiri tak jauh, mengawasi dengan tatapan waspada. Cemburu? Mungkin. Atau barangkali itu hanya cara seekor ibu memastikan dunia tetap aman bagi anaknya.
Kisah di Ukui ini menunjukkan bahwa upaya perlindungan gajah Sumatera membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perusahaan, masyarakat sekitar hingga para mahout yang setiap hari berada di garis depan perawatan satwa tersebut.***
