15 April 2026

DPRD Riau Sebut Replanting Kelapa di Inhil Belum Maksimal

DC6A3905-723C-4F23-8AA8-45129D8F1ADD
Bagikan Disini :

PEKANBARU, Cakrawalapos.id – Anggota DPRD Riau Ikbal Sayuti menilai, program peremajaan (replanting) kelapa di Indragiri Hilir (Inhil) belum bisa berjalan maksimal. Pasalnya, infrastruktur perkebunan kelapa di Inhil belum tertangani dengan baik.

Menurutnya, persoalan replanting kelapa ini tidak hanya berkaitan dengan bibit. Melainkan juga tentang lahan yang akan digunakan.

Politisi PPP dari Daerah Pemilihan (Dapil) Inhil itu menyebut, banyak lahan di Inhil yang terdampak banjir akibat dari rusaknya tanggul dan sistem tata air.

Dikatakannya, Inhil memang daerah penghasil kelapa terluas di dunia, dan memiliki potensi besar. Akan tetapi, keberkahan itu belum sepenuhnya dirasakan oleh petani lantaran banyak lahan yang terdampak banjir akibat rusaknya tanggul dan sistem tata kelola air.

“Program yang dibuat itu peremajaan, artinya bantuan bibit, mungkin pupuk, atau perbaikan lahan lama. Tapi persoalan kelapa di Inhil bukan hanya soal bibit. Infrastruktur perkebunan kita yang bermasalah,” kata Ikbal, Rabu (25/2/2026).

Banyak lahan kelapa di Inhil terendam banjir disebabkan tanggul rusak serta sistem saluran air yang tidak berfungsi dengan maksimal. Karena itu, ia berharap sebelum dilakukan penanaman bibit baru, pemerintah terlebih dahulu membenahi tanggul, saluran, dan pintu air.

“Kalau tidak diperbaiki tanggulnya, saluran, pintu airnya, percuma diberikan bibit. Tebang yang lama saja tidak cukup, harus dibangun dulu infrastruktur tata airnya,” jelasnya.

Ikbal mengaku, dia bersama rekan-rekan Komisi II DPRD Riau telah mendatangi Direktorat Jenderal Perkebunan untuk mempertanyakan efektivitas program tersebut. Karena dalam skema yang ada, sebanyak 1 juta bibit akan dialokasikan untuk lahan sekitar 27 ribu hektare.

Ia menilai, angka tersebut tidak realistis dengan kondisi riil di lapangan. Data yang diminta dari dinas perkebunan kabupaten maupun provinsi sulit terpenuhi karena luas lahan bermasalah cukup besar dan membutuhkan penanganan infrastruktur lebih dulu.

Dia juga membandingkan program peremajaan kelapa dengan kelapa sawit. Menurutnya, peremajaan sawit relatif lebih mudah karena lahan masih dalam kondisi baik dan hanya tanaman yang sudah tua yang perlu diganti.

“Kalau sawit lahannya masih bagus, tinggal tebang dan tanam baru. Kelapa berbeda. Kalau infrastruktur tidak dibenahi, replanting tidak akan berhasil,” pungkasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *