15 April 2026

11 Hotspot Tersisa di Dumai, Kapolda dan Rocky Gerung Ikut Padamkan Api

cakaplahcom_j7jcf_134366_m
Bagikan Disini :

DUMAI, Cakrawalapos.id Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Dumai mulai menunjukkan hasil. Kepolisian Daerah (Polda) Riau mencatat tren penurunan titik api dalam beberapa hari terakhir, seiring penguatan kolaborasi lintas sektor di lapangan.

Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, turun langsung meninjau lokasi kebakaran di Kecamatan Dumai Timur untuk memastikan penanganan berjalan optimal pada Jumat (27/3/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Herry didampingi Rocky Gerung dari Tumbuh Institute, serta unsur pemerintah daerah, TNI-Polri, dan relawan. Ia bahkan ikut turun ke titik api bersama tim gabungan dan terlibat langsung dalam proses pemadaman.

Berdasarkan data terkini, masih terdapat 11 hotspot di wilayah Dumai, masing-masing 2 titik di Dumai Timur dan 9 titik di Medang Kampai, dengan kategori sedang (medium). Total luas lahan terdampak kebakaran mencapai sekitar 87,25 hektare.

Meski demikian, kondisi di lapangan mulai terkendali. Jumlah titik api yang sebelumnya mencapai puluhan kini menurun signifikan.

“Hari ini saya hadir langsung di lokasi di Kecamatan Dumai Timur. Saya didampingi oleh Pak Rocky dari Tumbuh Institute yang sejak beberapa hari terakhir terus bersama kami, mulai dari Rupat, Pelalawan, hingga hari ini di Dumai,” ujarnya.

Ia menegaskan, penurunan jumlah titik api merupakan hasil kerja kolaboratif lintas sektor yang terus dijaga secara konsisten.

“Di Dumai Timur ini ada penurunan yang cukup signifikan. Dari sebelumnya puluhan titik api, saat ini tinggal delapan titik yang terus kita tangani. Ini adalah hasil kerja bersama seluruh unsur, baik TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, Damkar, Manggala Agni, MPA, relawan, hingga dukungan pihak swasta,” jelasnya.

Menurutnya, kunci utama penanganan karhutla terletak pada koordinasi yang solid dan respons cepat terhadap kendala di lapangan.

“Kita tidak bisa bekerja parsial. Semua harus gotong royong. Kendala di lapangan harus segera dijembatani, baik dari sisi peralatan, dukungan water bombing, maupun langkah lain seperti modifikasi cuaca yang sudah kita komunikasikan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tantangan ke depan masih cukup berat, terutama menjelang puncak musim kemarau pada pertengahan tahun.

“Menghadapi periode Juni hingga Agustus, kerja kolaboratif ini harus terus dijaga. Ini bukan kerja satu pihak, tetapi kerja bersama,” tambahnya.

Sementara itu, Rocky Gerung menilai langkah cepat aparat di lapangan menjadi faktor penting dalam memutus pola berulang karhutla.

“Seratus hari ke depan ini adalah fase ujung dari El Nino, artinya akan ada panas yang ekstra. Ini masalah yang berulang setiap tahun, tetapi saya melihat ada inisiatif baik ketika aparat turun lebih awal untuk memulai penanganan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan teknis, tetapi juga membutuhkan kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan.

“Kita bisa melakukan water bombing dan modifikasi cuaca, teknologi membantu. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana menjaga hubungan dengan alam. Jika tidak, masalah ini akan terus berulang,” katanya.

Menurut Rocky, karhutla pada akhirnya merupakan refleksi dari relasi manusia dengan lingkungan yang harus diperbaiki secara bersama.

“Alam punya hukumnya sendiri. Kita bisa padamkan api, tapi kalau relasi kita dengan alam bermasalah maka kebakaran akan terus terjadi. Karena itu dibutuhkan keterlibatan semua pihak dari negara, masyarakat hingga akademisi untuk memastikan kebakaran tidak meluas,” pungkasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *